Skip to main content

Hakikat Puasa: Belajar Menahan Diri

Senin, 20 Ramadhan 1447 H 

Puasa sering dipahami sebagai menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Secara syariat, puasa memang berarti menahan diri dari makan, minum, serta segala hal yang membatalkan puasa.

Namun hakikat puasa sesungguhnya jauh lebih dalam daripada sekadar menahan lapar dan dahaga.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
 (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menjelaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Ketakwaan berarti kesadaran untuk menjaga diri dari segala yang dilarang oleh Allah. Dengan kata lain, puasa adalah latihan untuk menahan diri.

Puasa melatih manusia menahan hawa nafsu, menahan keinginan yang berlebihan, serta menahan diri dari perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hakikat puasa bukan hanya menahan perut dari makanan, tetapi juga menahan seluruh anggota tubuh dari dosa. Lisan ditahan dari dusta dan ghibah, mata ditahan dari melihat yang haram, dan hati ditahan dari niat buruk.

Jika kita renungkan dalam kehidupan sehari-hari, banyak masalah dalam kehidupan manusia sebenarnya terjadi karena seseorang tidak mampu menahan dirinya.

Mengapa seseorang bisa mencuri?
 Karena ia tidak mampu menahan diri dari mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Mengapa seseorang bisa bermaksiat?
 Karena ia tidak mampu menahan diri dari melakukan perbuatan yang dilarang.

Mengapa banyak orang terjerat judi online?
 Karena tidak mampu menahan diri dari godaan keuntungan berlipat ganda yang dijanjikan, hingga akhirnya terjerumus dalam kerugian.

Mengapa orang mudah menyebarkan fitnah?
 Karena tidak mampu menahan lisannya dari berbicara tanpa berpikir dan tanpa memastikan kebenarannya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh pada puasanya yang meninggalkan makan dan minum.”
 (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk dosa.

Mengapa seseorang bisa melakukan korupsi?
 Karena ia tidak mampu menahan diri dari mengambil harta yang bukan miliknya.

Mengapa ada orang yang ilmunya rendah?
 Karena ia tidak mampu menahan dirinya menghadapi sulit dan kerasnya proses belajar.

Mengapa sering terjadi pertengkaran?
 Karena masing-masing tidak mampu menahan emosi dan tidak sabar menghadapi perbedaan.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
 (HR. Bukhari dan Muslim)

Semua ini menunjukkan satu hal: banyak kerusakan dalam kehidupan manusia terjadi karena manusia tidak mampu menahan dirinya.

Di sinilah puasa menjadi pendidikan bagi jiwa manusia.

Puasa melatih kita menahan sesuatu yang sebenarnya halal, seperti makan dan minum, pada waktu tertentu. Tujuannya agar kita lebih mampu menahan diri dari hal-hal yang haram sepanjang hidup kita.

Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan:

“Puasa adalah sarana paling besar untuk melatih kesabaran dan menundukkan hawa nafsu.”

Jika seseorang mampu menahan lapar dan haus karena Allah, seharusnya ia juga mampu menahan dirinya dari mencuri, dari korupsi, dari judi, dari maksiat, serta dari berbagai perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Inilah pelajaran besar dari puasa: membangun kontrol diri dan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan kita.

Allah SWT berfirman:

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
 (QS. Al-Hadid: 4)

Jika seseorang benar-benar mengambil pelajaran dari puasa Ramadhan, maka setelah Ramadhan seharusnya ia menjadi pribadi yang lebih mampu menahan diri, lebih sabar, dan lebih berhati-hati dalam setiap tindakan.

Karena pada akhirnya, kualitas seseorang tidak hanya diukur dari seberapa banyak ia beribadah, tetapi juga dari seberapa baik ia mampu mengendalikan dirinya dalam kehidupan sehari-hari.


Wallahua'lam Bisshowab

Rizky Hidayat, S.Kom